BREAKING NEWS

The Power Of Santri

Selasa, 07 Juli 2026

Mengelilingi Pulau Muria

 



Hari Senin kemarin saya kembali mengajak istri dan lima anak saya jalan-jalan memakai Nissan Serena HWS 24. Kali ini tidak jauh-jauh sampai luar provinsi. Tujuannya hanya mengelilingi Pulau Muria.

Pulau Muria yang saya maksud tentu bukan pulau seperti sekarang yang terpisah laut. Tetapi Pulau Muria versi peta Belanda dulu, ketika Gunung Muria benar-benar terpisah dari Pulau Jawa. Entah kenapa saya memang senang membayangkan sejarah. Jalan yang sekarang dilewati mobil, ratusan tahun yang lalu mungkin masih berupa selat yang dilayari perahu.

Kami berangkat dari rumah di Desa Demangan, sekitar satu kilometer sebelah barat Alun-alun Kudus, pukul 09.30 WIB.

Tujuan pertama adalah Kajen, Pati, untuk ziarah ke makam Syekh Mutamakkin. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram. Sejak dulu saya memang senang mengajak anak-anak berziarah. Mungkin mereka belum paham semuanya sekarang, paling tidak nanti ketika sudah besar mereka punya kenangan kalau dulu pernah diajak sowan kepada para ulama.

Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Kajen. Kami langsung berziarah dan berdoa. Suasananya cukup teduh. Anak-anak yang biasanya ramai pun alhamdulillah bisa lebih tenang ketika memasuki area makam.

Selesai berdoa, baru terdengar suara kecil dari belakang.

"Pak... beli mainan."

Ternyata Biya.

Namanya juga anak kecil. Dia belum begitu paham sedang berada di mana. Yang penting melihat penjual mainan.

Akhirnya saya belikan satu mainan sederhana. Sekitar pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo, Bangsri, Jepara.

Rutenya lumayan jauh. Dari Kajen kami menuju Tayu, lalu Cluwak, Keling, hingga akhirnya masuk Bangsri.

Saya memang sengaja memilih jalur itu. Selain lebih dekat, pemandangannya juga enak. Di sebelah kiri sesekali terlihat Gunung Muria, sementara di beberapa tempat masih banyak hamparan sawah yang menghijau.

Sekitar pukul 13.15 kami sampai di Bangsri.

Karena perut sudah mulai lapar, kami mampir dulu di rumah makan Padang untuk makan siang.

Kalau sudah makan bersama lima anak, kadang yang capek bukan makannya, tapi memastikan semuanya sudah kebagian.

"Sendoke endi?"

"Es tehku endi?"

"Aku es jeruk."

Begitulah suasana makan keluarga besar yang masih kecil 😁.

Sekitar pukul 13.45 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo dan sampai di bibir pantai sekitar pukul 14.30.

Begitu melihat laut, anak-anak langsung berlari. Sandalnya dilepas. Celana mulai basah. Pasir mulai ke mana-mana.

Saya dan istri hanya bisa saling melihat sambil tersenyum.

Memang beginilah kalau membawa anak ke pantai. Pulangnya nanti yang dibawa bukan hanya kenangan, tapi juga pasir.

Ketika anak-anak sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang ibu menghampiri kami. Ternyata beliau adalah ibunya Mbak Risya. Mbak Risya ini salah satu santri yang dulu pernah mondok di pesantren kami.

Memang sehari sebelumnya saya sudah mengabari kalau kami berencana bermain ke Pantai Bondo dan kalau sempat ingin mampir ke rumahnya.

Beliau kemudian berkata,

"Yi, mending pindah mriku mawon. Mpun kulo pesenke tempat ting mriko."

Akhirnya kami mengikuti saran beliau.

Masih sama-sama di kawasan Pantai Bondo, tetapi memang tempatnya lebih nyaman. Pantainya lebih bersih dan pemandangan lautnya lebih lepas.

Alhamdulillah anak-anak tambah senang.

Saya pun jadi ikut menikmati suasana.

Kadang yang dicari ketika ke pantai bukan ombaknya. Tetapi duduk sambil melihat anak-anak tertawa sudah cukup membuat hati tenang.

Kami berada di Pantai Bondo sampai sekitar pukul 17.30 WIB.

Setelah semuanya selesai mandi dan berganti pakaian, kami pun menuju rumah Mbak Risya. Kami hanya mampir sebentar. Ngobrol seperlunya, silaturahim, lalu setelah shalat Maghrib dan Isya kami berpamitan.

Perjalanan pulang kami tempuh lewat Mlonggo, Jepara Kota, Tahunan, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, lalu masuk kembali ke Kota Kudus.

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di rumah.

Kalau dihitung-hitung, perjalanan hari itu tidak terlalu jauh dibanding ketika ke Jogja. Mobil juga tidak sampai rewel seperti perjalanan sebelumnya. Serena HWS 24 ini seolah sedang menunjukkan kalau dirinya masih sanggup diajak mengelilingi Muria.

Saya pun jadi berpikir, ternyata untuk membahagiakan keluarga tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh atau mengeluarkan biaya yang besar. Di sekitar Muria pun banyak tempat yang indah. Ada makam ulama yang menenangkan hati, ada pantai yang menyenangkan anak-anak, ada sahabat dan santri yang masih menjaga silaturahim.

Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Terima kasih telah memberi kesehatan kepada istri dan kelima anak saya—Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya—sehingga mereka bisa menikmati hari itu dengan penuh kegembiraan. Semoga setiap langkah perjalanan kami tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal para kekasih-Mu, menyambung silaturahim, dan semakin mensyukuri nikmat yang Engkau berikan. Aamiin.

Selasa, 16 Juni 2026

Ku Percaya Selalu Ada Sesuatu di Djogja


Hari Ahad kemarin (14 Juni 2026) saya memberanikan diri membawa Nissan Serena C24 untuk jalan-jalan bersama keluarga ke Jogja. Berangkat dari Kudus sekitar pukul 14.30 bersama istri dan lima anak saya: Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya.

Awalnya perjalanan lancar seperti biasa. Saya sengaja lewat Semarang dan masuk tol. Anak-anak terlihat senang karena memang kalau liburan pasti selalu saya ajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 16.30 kami sampai di rest area Ungaran. Ketika mau parkir, tiba-tiba putaran mesin terasa turun. Rasanya seperti mau mati. Saya coba hidupkan lagi dan mesin normal. Tetapi hati saya langsung tidak enak.

"Jangan sampai rewel di tengah perjalanan," batin saya.

Maklum, mobil ini juga sudah tidak muda lagi. Kalau hanya saya sendiri mungkin tidak terlalu khawatir. Tapi kali ini saya membawa istri dan lima anak sekaligus.

Setelah shalat Ashar dan istirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju Bantul lewat Bawen dan Magelang. Karena masih kepikiran kondisi mesin, saya coba mematikan AC.

Jujur saja, selama perjalanan itu pikiran saya tidak tenang. Setiap mendengar suara mesin agak berbeda sedikit, langsung was-was. Setiap berhenti di lampu merah juga saya perhatikan jarum RPM terus.

Anak-anak tentu tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka tetap asyik ngobrol dan bercanda.

Sedangkan saya di depan sibuk berdialog dengan mesin.

"Sing penting tekan Jogja dhisik."

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di Bantul.

Malam itu saya menginap di rumah teman saya, Ulin Nuha. Beliau ini dulu pernah mondok di tempat pak lek saya, KH. Ahmad Asnawi. Kalau tidak salah beliau mulai mondok sekitar akhir tahun 1994. Saat itu saya masih kelas 4 SD. Sudah cukup lama kami saling kenal. Orangnya baik dan sampai sekarang masih sering silaturrahim ke Kudus.

Karena sudah lama tidak bertemu, malam itu kami banyak ngobrol. Dari cerita pesantren, teman-teman lama, sampai kabar beberapa orang yang kami kenal bersama. Kalau sudah ngobrol seperti itu, kadang satu jam terasa sebentar.

Pagi harinya sekitar pukul 07.00 kami berangkat ke Parangtritis.

Kalau orang tua diajak ke pantai mungkin biasa saja. Tetapi kalau yang diajak lima anak, ceritanya beda.

Begitu sampai, mereka langsung berhamburan.

Yahya sudah lari duluan.

Maya sibuk bermain pasir.

Balya mencari-cari kerang.

Roya buat istana pasir

Sedangkan Biya yang masih 3 tahun hanya berani main pasir di dekat saya.

Saya dan istri hanya duduk memperhatikan mereka.

Dalam hati saya berkata, ternyata kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Tidak harus ke tempat yang mahal. Bisa bermain pasir dan berlari mengejar ombak saja mereka sudah senang.

Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Annet Villa di Sleman. Di sana kami menginap sehari semalam.

Hari Selasa kami bersiap pulang. Sebelum kembali ke Kudus, saya berencana mampir ke rumah saudara di Suruh, Kabupaten Semarang.

Rencana awal saya sebenarnya lewat Magelang, Tegalrejo, Kopeng, Salatiga lalu Suruh. Menurut saya jalannya lebih nyaman untuk mobil yang kondisinya sedang kurang prima.

Tetapi entah kenapa Google Maps malah mengarahkan lewat Ketep Pass.

Awalnya saya tidak terlalu curiga.

Begitu masuk daerah pegunungan, saya mulai sadar.

"Lho kok lewat kene?"

Jalan mulai menanjak.

Lalu menanjak lagi.

Kemudian turun.

Lalu menanjak lagi.

Saya langsung teringat kejadian di Ungaran dua hari sebelumnya.

AC pun saya matikan.

Jujur saja, saat itu jantung saya mulai dag dig dug.

Batinku, iki mobil kok pas plesiran malah ngajak ujian mental.

Setiap ketemu tanjakan saya dengarkan suara mesin. Setiap melihat jarum temperatur saya perhatikan baik-baik.

Anak-anak di belakang tentu tetap santai. Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang melihat pemandangan gunung.

Sedangkan saya sibuk membaca situasi.

Kadang saya sampai berdoa sendiri.

"Ya Allah, kuatno tekan nduwur."

Alhamdulillah sedikit demi sedikit tanjakan bisa dilewati. Sampai akhirnya masuk daerah Kopeng dan jalan mulai terasa lebih ringan. Barulah hati saya agak tenang.

Sekitar pukul 15.00 kami sampai di Suruh setelah berangkat dari Sleman pukul 12.00. Ketika mematikan mesin di halaman rumah saudara, rasanya lega sekali.

Saya pun jadi berpikir. Mobil ini usianya sudah tidak muda. Saya sendiri juga makin bertambah umur. Anak-anak yang dulu hanya ikut digendong sekarang sudah bisa menikmati perjalanan dan punya cerita sendiri-sendiri.

Mungkin beberapa tahun lagi mereka tidak akan ingat berapa kilometer perjalanan ini. Mereka juga mungkin tidak akan ingat bahwa ayahnya sepanjang jalan deg-degan memikirkan kondisi mobil.

Tetapi mudah-mudahan mereka ingat bahwa pernah ada satu perjalanan sederhana bersama ayah dan ibunya. Ada pantai, ada gunung, ada villa, ada jalan yang berkelok-kelok, dan ada kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang persis sama.

Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menjaga perjalanan kami. Engkau selamatkan kami meskipun kendaraan yang kami bawa tidak sempurna dan pengemudinya pun penuh kekurangan. Jika perjalanan ini membawa kebahagiaan bagi anak-anak saya, maka jadikanlah itu sebagai salah satu nikmat yang membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu. Aamiin.

Jumat, 27 Juni 2025

Putra Sunan Kudus di Karimun Jawa


Mikialqudsy.blogspot.com - Tanggal 23 sd 25 Juni 2025 kemarin saya liburan ke Karimun Jawa. Berangkat senin pagi pukul 07.00 dan harus tiba di pelabuhan pantai Kartini jam 08.00 karena kapal berangkat pukul 09.00. Dengan naik kapal Express perjalanan hanya ditempuh sekitar 2,5 jam yang seharusnya bisa dua kali lipat jika naik kapal Ferry biasa. Perjalanan pertama naik kapal Express seperti terombang ambing karena kecepatan kapal yang tak biasa itu. Perut pun jadi mual dan kepala menjadi kenyut-kenyut apalagi masih mbagani lima bocil yang juga mabuk laut. Tiket kapal Express 200 rb sekali jalan. Harga yang cocok dengan pelayanan (kecepatan) walaupun harus mual-mual karena belum terbiasa. 

Liburan ke Karimun ini saya menggunakan jasa travel www.karimunjawafun.com karena pemilik travel Pak Indra Ardiyanto adalah wali santri di Ponpes Qudsiyyah Putri. Soal harga jangan ditanya lagi, spesial tentunya. Waktu itu pak Indra sowan ke rumah saya memperkenalkan diri kalau dari Karimun. Monggo pak kalau liburan ke Karimun, saya lihat instagram njenengan sering jalan-jalan kalau liburan, kata beliau. Wah siap pak, jawab saya tegas. Akhirnya kesampaian juga ke Karimun.

Karimun ini memang sangat exotic, ada banyak wisata pantai dengan pasir putih dan pantai yang relatif masih bersih. Apalagi snorkeling yang merupakan wisata andalan kalau ke Karimun. Pengunjung bisa menikamati keindahan bawah laut dengan dipandu guide yang sudah berpengalaman. Nanti akan saya ulas wisata apa saja yang saya kunjungi. Namun yang membuat saya semangat ke Karimun adalah adanya makam Syekh Amir Hasan di pulau tersebut.

Di hari terakhir wisata, saya sempatkan untuk ziarah ke makam Amir Hasan yang menurut cerita beliau adalah putra dari Sunan Muria. Memang saya pernah mendengar cerita, bahwa dari puncak Muria terlihat pulau di kejauhan yang masih samar samar (kremun-kremun). Akhirnya Amir Hasan diperintahkan Sunan Muria untuk berdakwah kesana. Dari kata kremun kremun inilah yang akhirnya menjadi nama pulau Karimun. 

Lagi-lagi pak Indra membantu saya dengan dipinjami 3 motor agar bisa ke makam Amir Hasan yang terkenal dengan Sunan Nyamplungan itu. Dengan motor perjalan hanya sekitar 15 menit dengan rute yang terjal naik ke perbukitan sampai atas lokasi makam. Di makam itu sudah ada juru kunci yang humble menerima kedatangan kami. Mau langsung ziarah apa jagong-jagong dulu, tanya juru kunci. Jagong riyen mawon pak, jawab saya. Dari keterangan juru kunci itu, saya mendapat info baru bahwa Sunan Nyamplungan bukanlah putra Sunan Muria tapi putra Sunan Kudus. Berdasar cerita beliau melalui serat yang ada di Belanda menjelaskan bahwa Amir Hasan adalah putra sunan Kudus dengan Dewi Ruhil putri Sunan Bonang. Setelah melahirkan Amir Hasan beberapa tahun kemudian Dewi Ruhil wafat. Lalu sunan Kudus menikah lagi dan memiliki banyak anak. Mungkin karena repot hidup dengan adik-adik beda ibu, akhirnya Amir Hasan dirawat oleh bibinya (adik sunan Kudus) yang merupakan istri sunan Muria. Mungkin karena sejak kecil diasuh sunan Muria dan akhirnya diambil menantu oleh sunan Muria, maka yang terkenal beliau adalah putra sunan Muria. Ini cerita dari juru kunci makam Syekh Amir Hasan. Untuk kebenarannya wallahu a'lam bis showab.

Setelah itu saya pun segera berziarah dengan melangitkan kalimah-kalimah thoyyibah dan melafalkan doa - doa dengan bertawassul dengan Syekh Amir Hasan. Sebelum pulang juru kunci mengenalkan ular Edor yang katanya ular buta karena mendapatkan kutukan dari Amir Hasan yang selalu mengganggu mematuk kaki beliau berulang kali ketika pertama berdakwah di pulau Karimun itu.

                                             gambar silsilah sunan Nyamplungan


Senin, 20 Mei 2024

Alfiyyah Ibnu Malik




Alfiyyah..itulah nama nadhom fenomenal yang harus dihafal santri untuk memudahkan dalam memahami kaidah-kaidah nahwu. Setiap pesantren takhasus kitab pasti punya kurikulum kitab tersebut dan bahkan terkadang mewajibkan santrinya untuk menghafal.

Di Ponpes Qudsiyyah Putri , hafalan Alfiyyah juga menjadi syarat untuk kenaikan kelas selanjutnya.
Sebenarnya menghafal Alfiyyah itu mudah-mudah sulit, coro jowone gampang-gampang angel. Si Ipah mungkin beranggapan bahwa itu hal yang mudah, apalagi kalau santri tersebut santri yang polos ora neko-neko. Uripe ning pondok hanya ngaji, jamaah, ngapalke, taat aturan, manut guru pasti mudah untuk menghafalnya. Ibarate space otaknya masih kosong sehingga bisa diisi memori atau file sebanyak mungkin.
Namun bagi Siti yang rodo mbulet bocahe, ning omah dolalane hp wae sampai pondok yang dipikirannya adalah DM IG, Live tiktok, apalagi kalau sudah kenal garangan eh lanangan pasti merasa sulit untuk menghafal. Space otaknya mungkin hanya tinggal beberapa MB lagi seperti akun google Drive saya 😁. Mungkin cara untuk memulai hafalan adalah menghapus file-file besar yang ada di otak itu sehingga pikiran bisa fokus dan melupakan kenangan hpnya.
Alhamdulillah program yang kami bangun di ponpes ini mulai kelihatan hasilnya. Menurut saya, hasil ini bukan dari unsur pondok semata, namun juga kerjasama dengan madrasah untuk menyamakan persepsi dan program yang kita bangun. Di sini ada kelas unggulan kitab sehingga ada tambahan jam khusus untuk murojaah hafalan tiap hari. Semoga santri-santri yang telah menyelesaikan hafalan Alfiyyah senantiasa terjaga hafalannya dan dimudahkan dalam memahami kandungan bait-baitnya. Amiin

Sabtu, 13 April 2024

IKAQ (Putri)

 



Tak terasa sudah ada alumni pertama Qudsiyyah Putri. Masih ingat betul ketika awal-awal mereka di sini. Masih unyu-unyu, umbelen, nangisan, mbok-mbok en. Sekarang mereka sudah melanjutkan pendidikan atau kehidupan yang lebih tinggi. Sebelum mereka lulus, saya selalu berpesan untuk senantiasa menjaga murobathoh dengan almamater sehingga ora lali weton dan masih menjaga amaliyah Qudsiyyah.
Sudah sejak setahun yang lalu saya minta mereka untuk merajut semua alumni baik yang hanya lulusan MTs saja maupun yang lanjut di MA QP. Ada sekitar 90 santri yang terdata. Bahkan Syawwal tahun lalu mereka saya minta untuk mengadakan reuni sekaligus membentuk koordinator IKAQ (Putri) agar memudahkan komunikasi. Alhamdulillah antusias dalam pertemuan awal setahun lalu sangat tinggi.
Sebulanan yang lalu mereka menghubungiku lewat WA, kalau mau mengadakan reuni angkatan pertama. Saya selalu welcome jika mau mengadakan acara itu di Qudsiyyah Putri. Selain memudahkan akomodasi dan transportasi, juga untuk merecharge memori mereka selama tholabul ilmi di sini. Ojo lali guru-guru juga diundang, pinta saya. Semoga besok acaranya lancar dan sukses. Saya selalu doakan cita-cita kalian terwujud dan menjadi kebanggan kami di Qudsiyyah Putri karena kalian adalan angkatan pertama dan yang pertama pastilah selalu istimewa.

Jumat, 12 April 2024

Eid 1445 H

 


Tahun ini 1445 H akan menjadi usia matang saya, tepatnya nanti bulan Dzulhijjah. Genap 40 tahun sudah, namun saya merasa masih banyak kekurangan. Kurang ilmu, kurang ibadah, kurang anak 🤭
Ada satu hal yang ingin saya capai namun entah kapan dan mungkin kesampaian atau tidak. Setelah dari Sarang mestinya saya pingin menghafal Al Qur'an namun sampai sekarang belum kesampaian. Angen-angene yo setelah menikah sambil ngapalke, tapi ekspektasi tak sesuai realita 😅. Apalagi anake mbregudhul ditambah mendapat amanah sebagai khodim ma'had otomatis waktu sudah banyak tersita.
Di tahun ini juga, akan menjadi tahun penentuan saya. Akan banyak keputusan-keputusan penting yang harus saya ambil tahun ini. Semoga selalu dipernahke gusti Allah subhanahu wata'ala.
Selamat hari raya Idul Fitri 1445 H, Mohon Maaf atas segala Khilaf.
Usgan

Rabu, 27 Maret 2024

Syekh Ihsan bin Syekh Dahlan Jampes



Pagi itu kami berencana untuk menghadiri haul Syekh Zubair Dahlan di makam Simpek Sarang. Rencananya kami berangkat jam 11.00 sehingga sampai Sarang kira-kira jam 14.00. Kalau sampai makam sebelum ashar biasanya masih lengang jadi bisa langsung ziarah di depan pusara salah satu kyai alim di Sarang tersebut. Namun rencana tetaplah rencana. Sopir yang kami ajak untuk membawa kami itu tidak kunjung datang. Katanya jemput anaknya dulu tapi sampai jam 11.30 masih belum kelihatan.
Akhirnya jam 12.00 kami berangkat dari ponpes Qudsiyyah Putri menuju ke IAIN Kudus menjemput senior kami bapak Noor Aflah . Memang agenda kami setelah dari makam Syekh Zubair langsung menuju ke Ploso lewat Babat ke arah selatan. Kami mau sowan ke Gus Kautsar untuk ngaturi beliau mengisi acara di Kudus. Setelah kami pikir-pikir, ini kalau lewat Sarang, jalur Pantura biasanya macet dan akan semakin malam untuk sampai ke Ploso Kediri. Kami pun memutuskan untuk menangguhkan ziarah ke makam Mbah Zubair.
Kami pun putar balik lewat lingkar selatan menuju arah Demak melewati jalur Karanganyar yang sudah mulai surut sehingga bisa dilewati mobil. Mobil hitam itu kami geber dengan kecepatan 140 km/jam via tol Semarang - Sby. Keluar exit Nganjuk dan langsung menuju Ploso ponpes Al Falah itu. Alhamdulillah tepat maghrib kami sampai sana. Sebelumnya saya sudah nyari tempat makan Mbak Irah namanya. Resto yang menyajikan berbagai masakan sehingga bisa pilih sesuai selera. Kira-kira pukul 20.00 kami menuju ndalem Gus Kautsar dan diminta menunggu karena beliau ada rutinitas balagh Romadlon.
Pukul 22.30 kami bisa bertemu Gus Kautsar yang sangat khas dengan logat jawa timurnya itu. Saking pundi pak? Kudus Gus jawab kami. Badhe nopo? Bade ngaturi ngisi acara Alumni Qudsiyyah, jawab saya. Kapan? Mbenjing syawwal wekdale sak sagete njenengan. Waduh matek aku, jawab khas beliau. Bodho aku jatah ngisi ning luarJawa wis dijadwal ambi pondok jawab beliau. Kami pun tetap memelas supaya beliau berkenan mengisi di acara kami. Akhirnya kami pun diminta memberikan nomor yang bisa dihubungi untuk coba dijadwalkan agenda yang searah.
Selesai sowan Gus Kautsar teman saya ngajak untuk Ziarah ke makam Gus Miek, salah satu masyayikh Ploso yang terkenal kewaliannya itu. Selesai dari Gus Miek saya pun ganti minta untuk ziarah ke makam Syekh Ihsan Jampes. Kalau tadi tidak jadi ziarah ke Syekh Zubair bin Dahlan, maka harus ganti ziarah ke makam temannya Syekh Zubair bin Dahlan yaitu Syekh Ihsan bin Dahlan Jampes. Kyai yang terkenal sebagai pengarang Sirojut Tholibin Syarah minhajul Abidin itu.
Syekh Ihsan Jampes ini adalah salah satu kyai Jawa yang dikagumi Mbah Maimun Zubair. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah tapi punya maharoh menulis kitab dengan bahasa arab yang fasih. Mbah Maimun pernah cerita, Bapak (mbah Zubair) pernah berkunjung ke Syekh Ihsan dan berbicara menggunakan bahasa arab. Syekh Ihsan pun selalu menjawab "Gih Yai Gih Yai" ngapunten Yai kulo niku mboten saged ngomong bahasa arab. Mbah Zubair pun bingung, entah ini ketawadhuan Syekh Ihsan atau apa wallahu a'lam. Saat ziarah saya pun tidak lupa untuk membaca hadhroh ke Syekh Zubair Dahlan dan tentunya kepada simbah Maimun Zubair Dahlan. Semoga kami mendapat barokah dari shohibul makam. Amiin.

Sabtu, 02 Maret 2024

Malam Sholawat Simfoni Menjemput Romadlon 1445 H bersama Arridwan Almarashli Ensemble



By : Ibuk Elin


Waktu pertama kali dikabari pak Isbah Kholili seminggu sebelumnya, ibuk udah upyek briefing Yahya Balya untuk ambil kesempatan bisa duet bareng Almarashli. Qomarun, Assalamualaik, Ya Nabi, ya sholawatan2 yg sekiranya Yahya Balya bisa.

Sampailah di malam yg ditunggu2, ternyata posisi duduk guru putri agak jauh dari panggung. Bertahan beberapa menit sampai akhirnya ibuk dan 5 bocil bergeser ke musholla yg semakin jauh di pinggir, sambil mengamati kira2 bisa mendekat di posisi mana ya. Beruntungnya, masih ada space sedikit di area mbak2 rebana Mimil Mubarok yang tepat di bawah panggung, meluncurlah kami kesana.
Sholawat busyro, Ya Hanana, Tholama, Khoirol Bariyyah, Mughrom, dan sholawat2 lainnya mulai menyemarakkan suasana. Anak2 semangat bisa ngikutin teriak2 dari bawah panggung.
Tibalah saatnya pak Yaseen mengajak audience untuk pakai mic nyanyi bareng. Wah ini yg ditunggu.
Eh lhahkok ya lagunya Bahibbak wabaridak… Pelafalannya cukup sulit bagi yg jarang mendengar.
MC nyodorin mic ke mbak2 rebana, lha yo ga hafal. Mbak2 mulai bilang “bu Elin bu Elin bu Elin…”
Tangan gatel kudu ambil mic, tapi kok isin, insecure suarane kebanting, tapi tetep kuduuu… 😂
Akhirnya pake jalan tengah, kasih mic nya ke Yahya, ibuk mbisiki eh nggembori di mburinan. Dan tidak disangka, di tengah lagu, Balya dengan semangatnya ikut nyaut. Alhamdulillah tetep maceme cah cilik meski salah ambil nada.🤭
Pas nonton videonya di yutub, ibuknya nyesel kan, kenopo ga ambil kesempatan duet bareng. Ah inilah definisi “musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri”. Nyari kesempatan begini juga kapan lagi.🙃
Tapi ya sudah, 30 detik yg berhasil terabadikan dari mburinan ini biar jadi kenang2an Yahya Balya pernah duet bareng Almarashli. Sambil mengamini doa yg disematkan akun resmi Almarashli
اللهم ارزق أطفالنا المحبة الكاملة للنبي الأعظم صلى الله عليه وسلم امين

Rabu, 14 Februari 2024

SDN 1 PADURENAN

 



Di ruang kelas inilah saya menghabiskan pendidikan dasar saya. Di desa yang asri bernama Padurenan yang kental dengan sejarah panjangnya. Desa ini kemungkinan besar mulai ramai setelah kedatangan Raden Muhammad Syarif, salah satu putra Tumenggung Yudhonegoro dari Sumenep Madura. Raden Muhammad Syarif memutuskan meninggalkan Sumenep karena kadipaten tersebut jatuh ke tangan Belanda buntut dari perjanjian Pakubowono I atau Pangeran Puger dengan VOC Belanda. Setelah Pakubuwono I menjadi raja di Surokarto dengan menyingkirkan keponakannya Amangkurat 3, kemungkinan besar Belanda mulai menduduki pulau Madura tak terkecuali Sumenep (Madura Timur).
Banyak sekali kenangan saya di SD ini. Saya pun masih ingat wali kelas saya. Kelas 1 bu Endang, kelas 2 pak Tajuddin, kelas 3 Bu Rusi, kelas 4 pak Suharto, kelas 5 bu Supri (kayaknya 😅), dan kelas 6 pak Suripto.
Dari semua wali kelas itu yang paling halus adalah bu Endang, mungkin karena anak didiknya masih kecil-kecil jadi sangat pas kalau beliau yang mengajar. Dan yang paling galak adalah bu Supri, wali kelas 5. Sabetan penggaris sudah menjadi makanan empuk tiap ditanya dan tidak bisa menjawab. Kondisi psikologis saat itu sudah biasa, jadi tidak mempermasalahkan dengan hukuman tersebut. Coba hal itu dipraktekkan sekarang, masuk penjara lah akhirnya.
Saya sudah tidak begitu hafal dengan teman-teman SD satu angkatan karena saya sendiri jarang ke Padurenan. Satu kelas sekitar 20 anak kayaknya atau 19 saya agak lupa. Mungkin yang masih bisa saya pantau Facebook nya adalah Ahmad Salamun NiLta Manzilah sedang yang lainnya gak tau entah kemana. Ingin sekali saya silaturrahim ke rumah pak Suripto, semoga saja ada kesempatan.

Kamis, 12 Oktober 2023

Lasem



Lasem merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Rembang. Di era Majapahit, Lasem menjadi pelabuhan penting bagi kerajaan terbesar di Nusantara itu. Lasem berkembang menjadi kota penting di pesisir utara Jawa.


Pada masa walisongo, Lasem menjadi tempat sunan Bonang untuk berdakwah. Di antara buktinya adalah adanya Pasujudan Sunan Bonang di desa Bonang Lasem. Saya sendiri berkesempatan melihat batu bekas sujud wali yang terkenal sabagai guru si Lokajaya itu. Waktu itu saya naik ke pasujudan dan ndelalah ada wartawan yang mau meliput situs peninggalan sunan Bonang itu. Akhirnya saya pun ikut masuk ke dalam dan melihat batu yang membekas arkanus sujud.


Lasem menjadi istimewa di kalangan santri. Banyak sekali pondok pesantren di daerah ini. Selain itu banyak ulama-ulama kharismatik yg tinggal di Lasem, sebut saja Sayyid Abdurrahman Basyaiban (Mbah Sambu), KH. Baidhowi, KH. Maksum, KH. Masduki dll. Makam-makam beliau terletak di utara Masjid Jami' Lasem. Maka tidak berlebihan jika Lasem dijuluki sebagai kota santri, mengingat banyaknya ulama, pondok pesantren dan  santri yang mengkaji kitab kuning di kota ini.


Lasem juga menjadi tempat ketiga saya dalam menuntut ilmu selain Kudus dan Sarang. Saya pernah kuliah S1 di Ponpes Kauman Lasem asuhan KH. Zaim Ahmad. Biasanya santri Sarang kalau mbulet ke arah barat ya ke Lasem. 😅

Dari masjid Jami' Lasem masuk gang ke utara ada warung kopi lelet yang biasa dibuat nongkrong untuk memikirkan masa depan. Warung itu biasa dipanggil warung pak Jon dengan kopi lelet andalannya.

Rabu, 11 Oktober 2023

Antara Bullying dan Mental Kuat

 



Akhir-akhir ini marak berita tentang bullying di sekolah-sekolah. Jare guru bahasa Indonesia, Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.
Saya sendiri sering mendapat aduan dari wali santri terkait bullying yang dialami putrinya. Ada yang lewat telpon, chatt via WA, atau menemui saya langsung. Rata-rata korban yang kena bullying adalah anak-anak yang tipe pendiam, kurang bisa bergaul dengan teman, atau kalau dalam bahasa jawa disebut "cilek aten"
Biasanya anak yang lapor dibully saya tanya, "kamu dibully satu kamar atau beberapa anak saja?". Kalau dibully satu kamar biasanya orang itu yang salah, bisa karena ahlaknya yang kurang baik, menang-menangan di kamar, tidak mau piket, atau merasa paling kuat. Tapi kalau dibully beberapa anak saja, ini yang perlu diselidiki. Bisa saja dia yang salah atau memang teman-temannya yang salah.
Di ponpes Qudsiyyah Putri sendiri, kami punya 3 guru BK. Tiap lantai saya tempatkan satu guru BK untuk menangani masalah santri. Biasanya kalau ada laporan dari wali santri langsung saya lempar ke BK biar ditangani atau dicroscek terlebih dahulu. Nanti BK akan laporan ke saya terkait hasilnya. Kalau BK sudah tidak mampu menyelesaikan masalah santri, baru saya yang turun tangan.
Saya sendiri menilai kalau bullying itu sangat relatif. Mungkin bagi si A, ini tidak masuk bullying karena mentalnya yang kuat, jadi diusili atau disindir temannya setiap hari sudah dianggap hal biasa dan menjadi menu sarapan. Namun bagi beberapa anak yang dalam tanda kutip "cilik aten" tadi, hal sepele pun dia anggap sebagai pembullyan sehingga dia mengadu ke orang tuanya bahwa dia dibully teman-temannya.
Kalau dulu, pas saya mondok setiap ada santri baru pasti digarap dulu sama anak-anak lama. Kalau dia kuat mentalnya pasti akan bertahan di pondok, tapi kalau tidak kuat ya sebulan bahkan seminggu sudah minta boyong. Apakah saya pernah dibully? Ora trimo dibully, pernah diudani ambi cah-cah kamar. 🤪

Rabu, 13 September 2023

BLKK Ponpes Qudsiyyah Putri

 



Sekitar bulan Agustus 2022 kemarin, kami diminta Yai Najib Hassan untuk membuat proposal pengajuan gedung BLKK ke dinas tenaga kerja. Arahan dari beliau kejuruannya adalah multimedia mengingat kita sudah punya tim media dan fungsi media yang sangat signifikan di era sekarang. Alhamdulillah sekitar akhir Desember 2022 gedung BLKK Ponpes Qudsiyyah Putri selesai dibangun.
Proses demi proses kami lewati. Mulai dari pengiriman instruktur untuk mengikuti pelatihan di Surabaya selama satu setengah bulan, pelatihan tenaga pendidik di Jakarta selama satu minggu, LPJ dana bantuan gedung BLK, sampai proses izin operasional yang sangat detail. Bahkan peresmian gedung BLK se Indonesia yang dilaksanakan di Lombok pun harus diikuti. Alhamdulillah saya sendiri yang berkesempatan bisa terbang ke Lombok.
Sampai akhirnya izin operasional itu turun dan pelatihan BLKK Ponpes Qudsiyyah Putri kejuruan Multimedia mulai aktif hari Senin kemarin (11 September 2023). Untuk tahun ini, kami fokuskan peserta pelatihannya hanya alumni Qudsiyyah sendiri. Mungkin tahun depan jika ada program lagi akan kami buka untuk umum.
Keterangan Foto : Pembukaan Pelatihan BLKK Ponpes Qudsiyyah Putri kejuruan Multimedia. Semoga berjalan lancar dan menghasilkan alumni yang unggul, siap kerja, dan bisa berkiprah di bidang media.

Sabtu, 12 Agustus 2023

Pasukan Kiriman Allah




Entah kebetulan atau tidak, sebulan ini ada empat orang yang silaturrahim ke saya dan orangnya sama persis dengan setahun lalu yang juga menemui saya. 

Yang pertama ada habib dari Malang, sudah sepuh dengan tutur kata yang halus. Datang hanya bertujuan untuk silaturrahim dan menyambungkan sanad keilmuan orang-orang yang dikenal. Tidak ada tujuan sedikit pun untuk menjual barang atau sekedar meminta-meminta. Habib ini hampir kenal semua kiai-kiai di Jawa dengan sanad keilmuannya. Kiai ini dulu mondoknya di sini, kiai ini mondok disini, gus ini mondok di sini, begitu seterusnya. Wajah teduh dan sepuhnya menjadikan setiap orang akan nyaman jika ngobrol dengan beliau. Jagong sejam pun tak terasa karena banyaknya orang yang beliau kenal. Di akhir silaturrahim beliau pun pamitan, sebelum pamitan, beliau saya minta untuk berdo'a. Sebelum pulang, saya pun ke kamar untuk mengambil amplop yang mau saya haturkan pada beliau. Saya murni ikhlas dan merasa amplop itu tidak ada nilainya jika dibanding dengan do'a beliau. Kira-kira setahun yang lalu beliau juga datang dengan latar dan tujuan yang sama. 

Yang kedua, sekitar beberapa minggu kemudian ada habib dari Jepara. Jujur saja, ketika pertama bertemu, hati ini rasanya sudah gak karuan. Ini pasti seperti tahun kemarin, batin saya. Dan ternyata benar, habib ini membawa barang agar dijualkan ke santri-santri. Saya bingung, mau menolak gak enak, saya terima memberatkan santri-santri. Tahun ini dapat santri berapa gus? tanyanya. 200 bib, jawab saya. Nanti saya kasih 200 ya, insya Allah berkah. Gih monggo bib, jawab saya dengan pasrah. Akhirnya uang 4 juta pun aku kasihkan, saya niati bantu cucu Rasulullah. Persis kira-kira setahun yang lalu juga kejadiannya sama, hanya saja setahun yang lalu dikasih 100 saja. 

Kira-kira beberapa hari kemudian, di waktu sore hari, ada tamu yang datang. Yik Umar gus, seloroh beliau. Oh monggo yik pinarak, jawab saya. Yik Umar ini alumni Sarang, jadi sama-sama santrinya Mbah Maimoen. Dulu beliau diminta pak lek saya (lek Asnawi) agar ke rumah saya di ponpes Qudsiyyah Putri. Akhirnya beliau pun bertemu saya di sini. Ngobrol kami lebih ke seputar pondok sarang dan alumni-alumni yang kami kenal. Yik Umar ini humbel orangnya, jadi enak diajak ngobrol. Sebelum pamitan, beliau menawarkan parfum. Minyak gus, kagem njenengan. Pinten niki yik, tanya saya. Mpun sak kersane njenengan, jawabnya. Saya pun masuk kamar dan mengasihkan selembar uang. Niki yik kagem tumbas bensin, tutur saya. Doakan yik semoga berkah hidup saya. Setahun yang lalu pun kejadian hampir sama persis. 

Dan yang keempat, dua hari berselang, jumu'ah pagi ketika saya baru momong anak kelima saya, tiba-tiba ada bapak-bapak yang mengucap salam. Ketika saya jawab dan melihat orangnya, saya langsung ingat orang itu, walaupun lupa namanya. Monggo pak, ting kantor mawon mangkih kulo tak mriko. Wis ning kene wae, jawab beliau. Beliau ini adalah alumni Qudsiyyah angkatannya pak Naf'an, namun hanya sampi MI saja. Setelah itu beliau melanjutkan mondok di Sarang. Begitu masuk rumah beliau langsung membuka tas, dan mengeluarkan beberapa kitab. Iki lho nawani kitab, katanya. Saya pun membuka-buka beberapa kitab yang dibawanya. Batinku, aku ki wong males mutholaah koq ditawani kitab wae. Akhirnya kami pun ngobrol-ngobrol tentang qudsiyyah dan perkembangannya, alumni-alumni sarang yang kami kenal, dan beberapa kiai yang saya tanyakan. Ketika mau pamitan, saya pun diingatkan lagi. Endi kitab sing mpuk jupuk, selorohnya. Sing loro niki mpun gadhah pak, mpun sing niki mawon, jawab saya. Saya pun mengambilkan uang beberapa lembar untuk membayarnya. Saya terpaksa membelinya karena setahun yang lalu dengan agak terpaksa saya tidak membeli kitab yang beliau tawarkan. Ya Allah, saya niati semua ini untuk membantu sesama, jika Engkau berkenan mohon kabulkan hajat saya karena sesungguhnya saya juga orang yang masih kurang seperti mereka.

Senin, 24 Juli 2023

Suwuk Doktor Dari Mesir

 



Tadi malam ada peringatan haul simbah Maimoen Zubair yang keempat di rumah gebyok H. Nusron Wahid Mejobo. Sebenarnya majlis ini adalah rutinan yang dilaksanakan selapan sekali, namun karena bertepatan dengan haul mbah Mun maka acara selapanan ini terasa spesial. Acara ini dihadiri beberapa habaib kudus dan putra mbah Maimoen yaitu Gus Ghofur dan Gus Taj Yasin. Majlis itu dimulai tepat ba'dal maghrib. Sebenarnya saya agak ragu, apa bisa acara itu dimulai tepat waktu sebagaimana jadwal dalam undangan. Ternyata setelah sampai lokasi memang acara sudah dimulai. Bahkan gus Ghofur sendiri juga tidak percaya kalau acara itu bisa tepat waktu karena tradisi NU memang tidak seperti itu. 😅
Sebelum ngaji kitab bersama gus Ghofur, acara didahului dengan pembacaan tahlil, yasin fadhilah, dan maulid simtut duror karya habib Ali Alhabsy. Setelah itu sambutan shohibul majlis, mas Nusron Wahid. Mas Nusron banyak menyampaikan tentang hubungan sanad antara habaib dan ulama'. Ini menunjukkan kalau mas Nusron memang seorang muhibbin.
Malam itu ada tiga mauidhoh yang disampaikan. Pertama oleh habib Ali Utsman Ba'agil, beliau banyak menyampaikan tentang pentingnya majlis ilmu. Yang kedua oleh Gus Taj Yasin Maimoen , beliau menyampaikan tentang karomah-karomah mbah Maimoen dan menyinggung tentang utuhnya jasad mbah Maimoen ketika makam Ma'la dibongkar. Ketiga adalah ngaji kitab Tarojim oleh Babah Abdul Ghofur Maimoen , beliau membaca sebagian isi kitab karangan mbah Maimoen yang sudah dikarang sebelum tahun 90-an. Kitab itu menjelaskan tentang perkembangan islam di Nusantara khusunya Jawa dan beberapa biografi masyayikh Sarang.
Setelah selesai ngaji, ada ramah tamah di rumahnya mas Nusron. Saya sengaja mendekat ke gus Ghofur biar bisa minta air doa ke beliau. Setelah tamu banyak yang pulang saya pun matur pada beliau minta doa untuk anak-anak saya. Seketika itu mas Nusron yang disamping gus Ghofur nyeletuk "Doktor adoh-adoh teko Mesir koq trimo mbok jaluki suwuk" gus Ghofur yang mendengar pun tertawa sambil tetap nyuwuk air yang saya sodorkan. "Mboten nopo-nopo mas" jawab saya singkat.

Kamis, 29 Juni 2023

Anak Kelima

 



Alhamdulillahi ala tamaami ni'amihi wafadhlih.
Banyak teman-teman yang nanya, koq iso gawe anak selang seling lanang wedok. Saya pun hanya menjawab, angger dienggokno ngiwo nengen ngiwo nengen. 🤗
Anak lahir dengan kelamin laki-laki atau perempuan itu sudah takdir Allah. Yang penting kita jangan terbawa tradisi jahiliyyah :
واذا بشر احدهم بالانثى ظل وجهه مسودا وهو كظيم
Diberi anak laki-laki atau perempuan, kita harus bersyukur. Wajah kita harus bergembira atas lahirnya anak kita dengan selamat. Walaupun anak-anak kita perempuan, kita harus bangga. Mengko lih entuk mantu lanang-lanang kama qoola Mbah Ma'ruf Irsyad.
Anak-anak sengaja kami kasih nama-nama para nabi dan sholihin dengan harapan ngalap berkah pada beliau-beliau. Untuk laki-laki kami kasih nama Muhammad lalu Ahmad secara bergantian. Anak pertama saya kasih nama Muhammad Yahya Kholili, Yahya adalah buyut dari ibunya sedangkan kholili adalah buyut dari ayahnya. Dan Yahya sendiri adalah salah satu nabiyullah. Anak kedua, istri saya yang memberi nama Maryam Naqiyya. Awalnya mau sy beri nama Naqiyya Nadhiefa tapi istri saya usul maryam, jadilah Maryam Naqiyya. Anak ketiga Ahmad Hasan Balya, karena saya pernah nadzar jika diberi anak laki-laki saya akan beri nama seperti namanya bang Ahmad Hasan Alkaff lalu belakangnya saya tambahi Balya. Anak keempat saya tafa'ulan dengan waliyullah Robi'ah Adawiyyah, ndelalah sama-sama anak keempat. Lalu anak kelima berarti depannya Muhammad lagi, Muhammad Ashif Barkhiya (salah satu orang kepercayaan nabi Sulaiman yang bisa memindahkan singgasana ratu Bilqis dalam sekejap mata).
اللهم بارك لنا في ذريتنا وارزقنا برهم وتقواهم امين
 
Copyright © 2022 ISBAH KHOLILI. Designed by MikiAlQudsy