BREAKING NEWS

The Power Of Santri

Selasa, 16 Juni 2026

Ku Percaya Selalu Ada Sesuatu di Djogja


Hari Ahad kemarin (14 Juni 2026) saya memberanikan diri membawa Nissan Serena C24 untuk jalan-jalan bersama keluarga ke Jogja. Berangkat dari Kudus sekitar pukul 14.30 bersama istri dan lima anak saya: Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya.

Awalnya perjalanan lancar seperti biasa. Saya sengaja lewat Semarang dan masuk tol. Anak-anak terlihat senang karena memang kalau liburan pasti selalu saya ajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 16.30 kami sampai di rest area Ungaran. Ketika mau parkir, tiba-tiba putaran mesin terasa turun. Rasanya seperti mau mati. Saya coba hidupkan lagi dan mesin normal. Tetapi hati saya langsung tidak enak.

"Jangan sampai rewel di tengah perjalanan," batin saya.

Maklum, mobil ini juga sudah tidak muda lagi. Kalau hanya saya sendiri mungkin tidak terlalu khawatir. Tapi kali ini saya membawa istri dan lima anak sekaligus.

Setelah shalat Ashar dan istirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju Bantul lewat Bawen dan Magelang. Karena masih kepikiran kondisi mesin, saya coba mematikan AC.

Jujur saja, selama perjalanan itu pikiran saya tidak tenang. Setiap mendengar suara mesin agak berbeda sedikit, langsung was-was. Setiap berhenti di lampu merah juga saya perhatikan jarum RPM terus.

Anak-anak tentu tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka tetap asyik ngobrol dan bercanda.

Sedangkan saya di depan sibuk berdialog dengan mesin.

"Sing penting tekan Jogja dhisik."

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di Bantul.

Malam itu saya menginap di rumah teman saya, Ulin Nuha. Beliau ini dulu pernah mondok di tempat pak lek saya, KH. Ahmad Asnawi. Kalau tidak salah beliau mulai mondok sekitar akhir tahun 1994. Saat itu saya masih kelas 4 SD. Sudah cukup lama kami saling kenal. Orangnya baik dan sampai sekarang masih sering silaturrahim ke Kudus.

Karena sudah lama tidak bertemu, malam itu kami banyak ngobrol. Dari cerita pesantren, teman-teman lama, sampai kabar beberapa orang yang kami kenal bersama. Kalau sudah ngobrol seperti itu, kadang satu jam terasa sebentar.

Pagi harinya sekitar pukul 07.00 kami berangkat ke Parangtritis.

Kalau orang tua diajak ke pantai mungkin biasa saja. Tetapi kalau yang diajak lima anak, ceritanya beda.

Begitu sampai, mereka langsung berhamburan.

Yahya sudah lari duluan.

Maya sibuk bermain pasir.

Balya mencari-cari kerang.

Roya buat istana pasir

Sedangkan Biya yang masih 3 tahun hanya berani main pasir di dekat saya.

Saya dan istri hanya duduk memperhatikan mereka.

Dalam hati saya berkata, ternyata kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Tidak harus ke tempat yang mahal. Bisa bermain pasir dan berlari mengejar ombak saja mereka sudah senang.

Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Annet Villa di Sleman. Di sana kami menginap sehari semalam.

Hari Selasa kami bersiap pulang. Sebelum kembali ke Kudus, saya berencana mampir ke rumah saudara di Suruh, Kabupaten Semarang.

Rencana awal saya sebenarnya lewat Magelang, Tegalrejo, Kopeng, Salatiga lalu Suruh. Menurut saya jalannya lebih nyaman untuk mobil yang kondisinya sedang kurang prima.

Tetapi entah kenapa Google Maps malah mengarahkan lewat Ketep Pass.

Awalnya saya tidak terlalu curiga.

Begitu masuk daerah pegunungan, saya mulai sadar.

"Lho kok lewat kene?"

Jalan mulai menanjak.

Lalu menanjak lagi.

Kemudian turun.

Lalu menanjak lagi.

Saya langsung teringat kejadian di Ungaran dua hari sebelumnya.

AC pun saya matikan.

Jujur saja, saat itu jantung saya mulai dag dig dug.

Batinku, iki mobil kok pas plesiran malah ngajak ujian mental.

Setiap ketemu tanjakan saya dengarkan suara mesin. Setiap melihat jarum temperatur saya perhatikan baik-baik.

Anak-anak di belakang tentu tetap santai. Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang melihat pemandangan gunung.

Sedangkan saya sibuk membaca situasi.

Kadang saya sampai berdoa sendiri.

"Ya Allah, kuatno tekan nduwur."

Alhamdulillah sedikit demi sedikit tanjakan bisa dilewati. Sampai akhirnya masuk daerah Kopeng dan jalan mulai terasa lebih ringan. Barulah hati saya agak tenang.

Sekitar pukul 15.00 kami sampai di Suruh setelah berangkat dari Sleman pukul 12.00. Ketika mematikan mesin di halaman rumah saudara, rasanya lega sekali.

Saya pun jadi berpikir. Mobil ini usianya sudah tidak muda. Saya sendiri juga makin bertambah umur. Anak-anak yang dulu hanya ikut digendong sekarang sudah bisa menikmati perjalanan dan punya cerita sendiri-sendiri.

Mungkin beberapa tahun lagi mereka tidak akan ingat berapa kilometer perjalanan ini. Mereka juga mungkin tidak akan ingat bahwa ayahnya sepanjang jalan deg-degan memikirkan kondisi mobil.

Tetapi mudah-mudahan mereka ingat bahwa pernah ada satu perjalanan sederhana bersama ayah dan ibunya. Ada pantai, ada gunung, ada villa, ada jalan yang berkelok-kelok, dan ada kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang persis sama.

Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menjaga perjalanan kami. Engkau selamatkan kami meskipun kendaraan yang kami bawa tidak sempurna dan pengemudinya pun penuh kekurangan. Jika perjalanan ini membawa kebahagiaan bagi anak-anak saya, maka jadikanlah itu sebagai salah satu nikmat yang membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu. Aamiin.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2022 ISBAH KHOLILI. Designed by MikiAlQudsy