Hari Senin kemarin saya kembali mengajak istri dan lima anak saya jalan-jalan memakai Nissan Serena HWS 24. Kali ini tidak jauh-jauh sampai luar provinsi. Tujuannya hanya mengelilingi Pulau Muria.
Pulau Muria yang saya maksud tentu bukan pulau seperti sekarang yang terpisah laut. Tetapi Pulau Muria versi peta Belanda dulu, ketika Gunung Muria benar-benar terpisah dari Pulau Jawa. Entah kenapa saya memang senang membayangkan sejarah. Jalan yang sekarang dilewati mobil, ratusan tahun yang lalu mungkin masih berupa selat yang dilayari perahu.
Kami berangkat dari rumah di Desa Demangan, sekitar satu kilometer sebelah barat Alun-alun Kudus, pukul 09.30 WIB.
Tujuan pertama adalah Kajen, Pati, untuk ziarah ke makam Syekh Mutamakkin. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram. Sejak dulu saya memang senang mengajak anak-anak berziarah. Mungkin mereka belum paham semuanya sekarang, paling tidak nanti ketika sudah besar mereka punya kenangan kalau dulu pernah diajak sowan kepada para ulama.
Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Kajen. Kami langsung berziarah dan berdoa. Suasananya cukup teduh. Anak-anak yang biasanya ramai pun alhamdulillah bisa lebih tenang ketika memasuki area makam.
Selesai berdoa, baru terdengar suara kecil dari belakang.
"Pak... beli mainan."
Ternyata Biya.
Namanya juga anak kecil. Dia belum begitu paham sedang berada di mana. Yang penting melihat penjual mainan.
Akhirnya saya belikan satu mainan sederhana. Sekitar pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo, Bangsri, Jepara.
Rutenya lumayan jauh. Dari Kajen kami menuju Tayu, lalu Cluwak, Keling, hingga akhirnya masuk Bangsri.
Saya memang sengaja memilih jalur itu. Selain lebih dekat, pemandangannya juga enak. Di sebelah kiri sesekali terlihat Gunung Muria, sementara di beberapa tempat masih banyak hamparan sawah yang menghijau.
Sekitar pukul 13.15 kami sampai di Bangsri.
Karena perut sudah mulai lapar, kami mampir dulu di rumah makan Padang untuk makan siang.
Kalau sudah makan bersama lima anak, kadang yang capek bukan makannya, tapi memastikan semuanya sudah kebagian.
"Sendoke endi?"
"Es tehku endi?"
"Aku es jeruk."
Begitulah suasana makan keluarga besar yang masih kecil 😁.
Sekitar pukul 13.45 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo dan sampai di bibir pantai sekitar pukul 14.30.
Begitu melihat laut, anak-anak langsung berlari. Sandalnya dilepas. Celana mulai basah. Pasir mulai ke mana-mana.
Saya dan istri hanya bisa saling melihat sambil tersenyum.
Memang beginilah kalau membawa anak ke pantai. Pulangnya nanti yang dibawa bukan hanya kenangan, tapi juga pasir.
Ketika anak-anak sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang ibu menghampiri kami. Ternyata beliau adalah ibunya Mbak Risya. Mbak Risya ini salah satu santri yang dulu pernah mondok di pesantren kami.
Memang sehari sebelumnya saya sudah mengabari kalau kami berencana bermain ke Pantai Bondo dan kalau sempat ingin mampir ke rumahnya.
Beliau kemudian berkata,
"Yi, mending pindah mriku mawon. Mpun kulo pesenke tempat ting mriko."
Akhirnya kami mengikuti saran beliau.
Masih sama-sama di kawasan Pantai Bondo, tetapi memang tempatnya lebih nyaman. Pantainya lebih bersih dan pemandangan lautnya lebih lepas.
Alhamdulillah anak-anak tambah senang.
Saya pun jadi ikut menikmati suasana.
Kadang yang dicari ketika ke pantai bukan ombaknya. Tetapi duduk sambil melihat anak-anak tertawa sudah cukup membuat hati tenang.
Kami berada di Pantai Bondo sampai sekitar pukul 17.30 WIB.
Setelah semuanya selesai mandi dan berganti pakaian, kami pun menuju rumah Mbak Risya. Kami hanya mampir sebentar. Ngobrol seperlunya, silaturahim, lalu setelah shalat Maghrib dan Isya kami berpamitan.
Perjalanan pulang kami tempuh lewat Mlonggo, Jepara Kota, Tahunan, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, lalu masuk kembali ke Kota Kudus.
Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di rumah.
Kalau dihitung-hitung, perjalanan hari itu tidak terlalu jauh dibanding ketika ke Jogja. Mobil juga tidak sampai rewel seperti perjalanan sebelumnya. Serena HWS 24 ini seolah sedang menunjukkan kalau dirinya masih sanggup diajak mengelilingi Muria.
Saya pun jadi berpikir, ternyata untuk membahagiakan keluarga tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh atau mengeluarkan biaya yang besar. Di sekitar Muria pun banyak tempat yang indah. Ada makam ulama yang menenangkan hati, ada pantai yang menyenangkan anak-anak, ada sahabat dan santri yang masih menjaga silaturahim.
Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Terima kasih telah memberi kesehatan kepada istri dan kelima anak saya—Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya—sehingga mereka bisa menikmati hari itu dengan penuh kegembiraan. Semoga setiap langkah perjalanan kami tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal para kekasih-Mu, menyambung silaturahim, dan semakin mensyukuri nikmat yang Engkau berikan. Aamiin.


