BREAKING NEWS

The Power Of Santri

Selasa, 07 Juli 2026

Mengelilingi Pulau Muria

 



Hari Senin kemarin saya kembali mengajak istri dan lima anak saya jalan-jalan memakai Nissan Serena HWS 24. Kali ini tidak jauh-jauh sampai luar provinsi. Tujuannya hanya mengelilingi Pulau Muria.

Pulau Muria yang saya maksud tentu bukan pulau seperti sekarang yang terpisah laut. Tetapi Pulau Muria versi peta Belanda dulu, ketika Gunung Muria benar-benar terpisah dari Pulau Jawa. Entah kenapa saya memang senang membayangkan sejarah. Jalan yang sekarang dilewati mobil, ratusan tahun yang lalu mungkin masih berupa selat yang dilayari perahu.

Kami berangkat dari rumah di Desa Demangan, sekitar satu kilometer sebelah barat Alun-alun Kudus, pukul 09.30 WIB.

Tujuan pertama adalah Kajen, Pati, untuk ziarah ke makam Syekh Mutamakkin. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram. Sejak dulu saya memang senang mengajak anak-anak berziarah. Mungkin mereka belum paham semuanya sekarang, paling tidak nanti ketika sudah besar mereka punya kenangan kalau dulu pernah diajak sowan kepada para ulama.

Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Kajen. Kami langsung berziarah dan berdoa. Suasananya cukup teduh. Anak-anak yang biasanya ramai pun alhamdulillah bisa lebih tenang ketika memasuki area makam.

Selesai berdoa, baru terdengar suara kecil dari belakang.

"Pak... beli mainan."

Ternyata Biya.

Namanya juga anak kecil. Dia belum begitu paham sedang berada di mana. Yang penting melihat penjual mainan.

Akhirnya saya belikan satu mainan sederhana. Sekitar pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo, Bangsri, Jepara.

Rutenya lumayan jauh. Dari Kajen kami menuju Tayu, lalu Cluwak, Keling, hingga akhirnya masuk Bangsri.

Saya memang sengaja memilih jalur itu. Selain lebih dekat, pemandangannya juga enak. Di sebelah kiri sesekali terlihat Gunung Muria, sementara di beberapa tempat masih banyak hamparan sawah yang menghijau.

Sekitar pukul 13.15 kami sampai di Bangsri.

Karena perut sudah mulai lapar, kami mampir dulu di rumah makan Padang untuk makan siang.

Kalau sudah makan bersama lima anak, kadang yang capek bukan makannya, tapi memastikan semuanya sudah kebagian.

"Sendoke endi?"

"Es tehku endi?"

"Aku es jeruk."

Begitulah suasana makan keluarga besar yang masih kecil 😁.

Sekitar pukul 13.45 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo dan sampai di bibir pantai sekitar pukul 14.30.

Begitu melihat laut, anak-anak langsung berlari. Sandalnya dilepas. Celana mulai basah. Pasir mulai ke mana-mana.

Saya dan istri hanya bisa saling melihat sambil tersenyum.

Memang beginilah kalau membawa anak ke pantai. Pulangnya nanti yang dibawa bukan hanya kenangan, tapi juga pasir.

Ketika anak-anak sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang ibu menghampiri kami. Ternyata beliau adalah ibunya Mbak Risya. Mbak Risya ini salah satu santri yang dulu pernah mondok di pesantren kami.

Memang sehari sebelumnya saya sudah mengabari kalau kami berencana bermain ke Pantai Bondo dan kalau sempat ingin mampir ke rumahnya.

Beliau kemudian berkata,

"Yi, mending pindah mriku mawon. Mpun kulo pesenke tempat ting mriko."

Akhirnya kami mengikuti saran beliau.

Masih sama-sama di kawasan Pantai Bondo, tetapi memang tempatnya lebih nyaman. Pantainya lebih bersih dan pemandangan lautnya lebih lepas.

Alhamdulillah anak-anak tambah senang.

Saya pun jadi ikut menikmati suasana.

Kadang yang dicari ketika ke pantai bukan ombaknya. Tetapi duduk sambil melihat anak-anak tertawa sudah cukup membuat hati tenang.

Kami berada di Pantai Bondo sampai sekitar pukul 17.30 WIB.

Setelah semuanya selesai mandi dan berganti pakaian, kami pun menuju rumah Mbak Risya. Kami hanya mampir sebentar. Ngobrol seperlunya, silaturahim, lalu setelah shalat Maghrib dan Isya kami berpamitan.

Perjalanan pulang kami tempuh lewat Mlonggo, Jepara Kota, Tahunan, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, lalu masuk kembali ke Kota Kudus.

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di rumah.

Kalau dihitung-hitung, perjalanan hari itu tidak terlalu jauh dibanding ketika ke Jogja. Mobil juga tidak sampai rewel seperti perjalanan sebelumnya. Serena HWS 24 ini seolah sedang menunjukkan kalau dirinya masih sanggup diajak mengelilingi Muria.

Saya pun jadi berpikir, ternyata untuk membahagiakan keluarga tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh atau mengeluarkan biaya yang besar. Di sekitar Muria pun banyak tempat yang indah. Ada makam ulama yang menenangkan hati, ada pantai yang menyenangkan anak-anak, ada sahabat dan santri yang masih menjaga silaturahim.

Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Terima kasih telah memberi kesehatan kepada istri dan kelima anak saya—Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya—sehingga mereka bisa menikmati hari itu dengan penuh kegembiraan. Semoga setiap langkah perjalanan kami tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal para kekasih-Mu, menyambung silaturahim, dan semakin mensyukuri nikmat yang Engkau berikan. Aamiin.

Selasa, 16 Juni 2026

Ku Percaya Selalu Ada Sesuatu di Djogja


Hari Ahad kemarin (14 Juni 2026) saya memberanikan diri membawa Nissan Serena C24 untuk jalan-jalan bersama keluarga ke Jogja. Berangkat dari Kudus sekitar pukul 14.30 bersama istri dan lima anak saya: Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya.

Awalnya perjalanan lancar seperti biasa. Saya sengaja lewat Semarang dan masuk tol. Anak-anak terlihat senang karena memang kalau liburan pasti selalu saya ajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 16.30 kami sampai di rest area Ungaran. Ketika mau parkir, tiba-tiba putaran mesin terasa turun. Rasanya seperti mau mati. Saya coba hidupkan lagi dan mesin normal. Tetapi hati saya langsung tidak enak.

"Jangan sampai rewel di tengah perjalanan," batin saya.

Maklum, mobil ini juga sudah tidak muda lagi. Kalau hanya saya sendiri mungkin tidak terlalu khawatir. Tapi kali ini saya membawa istri dan lima anak sekaligus.

Setelah shalat Ashar dan istirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju Bantul lewat Bawen dan Magelang. Karena masih kepikiran kondisi mesin, saya coba mematikan AC.

Jujur saja, selama perjalanan itu pikiran saya tidak tenang. Setiap mendengar suara mesin agak berbeda sedikit, langsung was-was. Setiap berhenti di lampu merah juga saya perhatikan jarum RPM terus.

Anak-anak tentu tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka tetap asyik ngobrol dan bercanda.

Sedangkan saya di depan sibuk berdialog dengan mesin.

"Sing penting tekan Jogja dhisik."

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di Bantul.

Malam itu saya menginap di rumah teman saya, Ulin Nuha. Beliau ini dulu pernah mondok di tempat pak lek saya, KH. Ahmad Asnawi. Kalau tidak salah beliau mulai mondok sekitar akhir tahun 1994. Saat itu saya masih kelas 4 SD. Sudah cukup lama kami saling kenal. Orangnya baik dan sampai sekarang masih sering silaturrahim ke Kudus.

Karena sudah lama tidak bertemu, malam itu kami banyak ngobrol. Dari cerita pesantren, teman-teman lama, sampai kabar beberapa orang yang kami kenal bersama. Kalau sudah ngobrol seperti itu, kadang satu jam terasa sebentar.

Pagi harinya sekitar pukul 07.00 kami berangkat ke Parangtritis.

Kalau orang tua diajak ke pantai mungkin biasa saja. Tetapi kalau yang diajak lima anak, ceritanya beda.

Begitu sampai, mereka langsung berhamburan.

Yahya sudah lari duluan.

Maya sibuk bermain pasir.

Balya mencari-cari kerang.

Roya buat istana pasir

Sedangkan Biya yang masih 3 tahun hanya berani main pasir di dekat saya.

Saya dan istri hanya duduk memperhatikan mereka.

Dalam hati saya berkata, ternyata kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Tidak harus ke tempat yang mahal. Bisa bermain pasir dan berlari mengejar ombak saja mereka sudah senang.

Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Annet Villa di Sleman. Di sana kami menginap sehari semalam.

Hari Selasa kami bersiap pulang. Sebelum kembali ke Kudus, saya berencana mampir ke rumah saudara di Suruh, Kabupaten Semarang.

Rencana awal saya sebenarnya lewat Magelang, Tegalrejo, Kopeng, Salatiga lalu Suruh. Menurut saya jalannya lebih nyaman untuk mobil yang kondisinya sedang kurang prima.

Tetapi entah kenapa Google Maps malah mengarahkan lewat Ketep Pass.

Awalnya saya tidak terlalu curiga.

Begitu masuk daerah pegunungan, saya mulai sadar.

"Lho kok lewat kene?"

Jalan mulai menanjak.

Lalu menanjak lagi.

Kemudian turun.

Lalu menanjak lagi.

Saya langsung teringat kejadian di Ungaran dua hari sebelumnya.

AC pun saya matikan.

Jujur saja, saat itu jantung saya mulai dag dig dug.

Batinku, iki mobil kok pas plesiran malah ngajak ujian mental.

Setiap ketemu tanjakan saya dengarkan suara mesin. Setiap melihat jarum temperatur saya perhatikan baik-baik.

Anak-anak di belakang tentu tetap santai. Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang melihat pemandangan gunung.

Sedangkan saya sibuk membaca situasi.

Kadang saya sampai berdoa sendiri.

"Ya Allah, kuatno tekan nduwur."

Alhamdulillah sedikit demi sedikit tanjakan bisa dilewati. Sampai akhirnya masuk daerah Kopeng dan jalan mulai terasa lebih ringan. Barulah hati saya agak tenang.

Sekitar pukul 15.00 kami sampai di Suruh setelah berangkat dari Sleman pukul 12.00. Ketika mematikan mesin di halaman rumah saudara, rasanya lega sekali.

Saya pun jadi berpikir. Mobil ini usianya sudah tidak muda. Saya sendiri juga makin bertambah umur. Anak-anak yang dulu hanya ikut digendong sekarang sudah bisa menikmati perjalanan dan punya cerita sendiri-sendiri.

Mungkin beberapa tahun lagi mereka tidak akan ingat berapa kilometer perjalanan ini. Mereka juga mungkin tidak akan ingat bahwa ayahnya sepanjang jalan deg-degan memikirkan kondisi mobil.

Tetapi mudah-mudahan mereka ingat bahwa pernah ada satu perjalanan sederhana bersama ayah dan ibunya. Ada pantai, ada gunung, ada villa, ada jalan yang berkelok-kelok, dan ada kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang persis sama.

Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menjaga perjalanan kami. Engkau selamatkan kami meskipun kendaraan yang kami bawa tidak sempurna dan pengemudinya pun penuh kekurangan. Jika perjalanan ini membawa kebahagiaan bagi anak-anak saya, maka jadikanlah itu sebagai salah satu nikmat yang membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu. Aamiin.

 
Copyright © 2022 ISBAH KHOLILI. Designed by MikiAlQudsy