BREAKING NEWS

The Power Of Santri

Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2026

Mengelilingi Pulau Muria

 



Hari Senin kemarin saya kembali mengajak istri dan lima anak saya jalan-jalan memakai Nissan Serena HWS 24. Kali ini tidak jauh-jauh sampai luar provinsi. Tujuannya hanya mengelilingi Pulau Muria.

Pulau Muria yang saya maksud tentu bukan pulau seperti sekarang yang terpisah laut. Tetapi Pulau Muria versi peta Belanda dulu, ketika Gunung Muria benar-benar terpisah dari Pulau Jawa. Entah kenapa saya memang senang membayangkan sejarah. Jalan yang sekarang dilewati mobil, ratusan tahun yang lalu mungkin masih berupa selat yang dilayari perahu.

Kami berangkat dari rumah di Desa Demangan, sekitar satu kilometer sebelah barat Alun-alun Kudus, pukul 09.30 WIB.

Tujuan pertama adalah Kajen, Pati, untuk ziarah ke makam Syekh Mutamakkin. Beliau adalah ulama besar yang hidup pada masa Sultan Agung Mataram. Sejak dulu saya memang senang mengajak anak-anak berziarah. Mungkin mereka belum paham semuanya sekarang, paling tidak nanti ketika sudah besar mereka punya kenangan kalau dulu pernah diajak sowan kepada para ulama.

Sekitar pukul 11.30 kami sampai di Kajen. Kami langsung berziarah dan berdoa. Suasananya cukup teduh. Anak-anak yang biasanya ramai pun alhamdulillah bisa lebih tenang ketika memasuki area makam.

Selesai berdoa, baru terdengar suara kecil dari belakang.

"Pak... beli mainan."

Ternyata Biya.

Namanya juga anak kecil. Dia belum begitu paham sedang berada di mana. Yang penting melihat penjual mainan.

Akhirnya saya belikan satu mainan sederhana. Sekitar pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo, Bangsri, Jepara.

Rutenya lumayan jauh. Dari Kajen kami menuju Tayu, lalu Cluwak, Keling, hingga akhirnya masuk Bangsri.

Saya memang sengaja memilih jalur itu. Selain lebih dekat, pemandangannya juga enak. Di sebelah kiri sesekali terlihat Gunung Muria, sementara di beberapa tempat masih banyak hamparan sawah yang menghijau.

Sekitar pukul 13.15 kami sampai di Bangsri.

Karena perut sudah mulai lapar, kami mampir dulu di rumah makan Padang untuk makan siang.

Kalau sudah makan bersama lima anak, kadang yang capek bukan makannya, tapi memastikan semuanya sudah kebagian.

"Sendoke endi?"

"Es tehku endi?"

"Aku es jeruk."

Begitulah suasana makan keluarga besar yang masih kecil 😁.

Sekitar pukul 13.45 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Bondo dan sampai di bibir pantai sekitar pukul 14.30.

Begitu melihat laut, anak-anak langsung berlari. Sandalnya dilepas. Celana mulai basah. Pasir mulai ke mana-mana.

Saya dan istri hanya bisa saling melihat sambil tersenyum.

Memang beginilah kalau membawa anak ke pantai. Pulangnya nanti yang dibawa bukan hanya kenangan, tapi juga pasir.

Ketika anak-anak sedang asyik bermain, tiba-tiba ada seorang ibu menghampiri kami. Ternyata beliau adalah ibunya Mbak Risya. Mbak Risya ini salah satu santri yang dulu pernah mondok di pesantren kami.

Memang sehari sebelumnya saya sudah mengabari kalau kami berencana bermain ke Pantai Bondo dan kalau sempat ingin mampir ke rumahnya.

Beliau kemudian berkata,

"Yi, mending pindah mriku mawon. Mpun kulo pesenke tempat ting mriko."

Akhirnya kami mengikuti saran beliau.

Masih sama-sama di kawasan Pantai Bondo, tetapi memang tempatnya lebih nyaman. Pantainya lebih bersih dan pemandangan lautnya lebih lepas.

Alhamdulillah anak-anak tambah senang.

Saya pun jadi ikut menikmati suasana.

Kadang yang dicari ketika ke pantai bukan ombaknya. Tetapi duduk sambil melihat anak-anak tertawa sudah cukup membuat hati tenang.

Kami berada di Pantai Bondo sampai sekitar pukul 17.30 WIB.

Setelah semuanya selesai mandi dan berganti pakaian, kami pun menuju rumah Mbak Risya. Kami hanya mampir sebentar. Ngobrol seperlunya, silaturahim, lalu setelah shalat Maghrib dan Isya kami berpamitan.

Perjalanan pulang kami tempuh lewat Mlonggo, Jepara Kota, Tahunan, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, lalu masuk kembali ke Kota Kudus.

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di rumah.

Kalau dihitung-hitung, perjalanan hari itu tidak terlalu jauh dibanding ketika ke Jogja. Mobil juga tidak sampai rewel seperti perjalanan sebelumnya. Serena HWS 24 ini seolah sedang menunjukkan kalau dirinya masih sanggup diajak mengelilingi Muria.

Saya pun jadi berpikir, ternyata untuk membahagiakan keluarga tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh atau mengeluarkan biaya yang besar. Di sekitar Muria pun banyak tempat yang indah. Ada makam ulama yang menenangkan hati, ada pantai yang menyenangkan anak-anak, ada sahabat dan santri yang masih menjaga silaturahim.

Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami dengan orang-orang baik dalam setiap perjalanan. Terima kasih telah memberi kesehatan kepada istri dan kelima anak saya—Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya—sehingga mereka bisa menikmati hari itu dengan penuh kegembiraan. Semoga setiap langkah perjalanan kami tidak hanya menjadi wisata, tetapi juga menjadi jalan untuk mengenal para kekasih-Mu, menyambung silaturahim, dan semakin mensyukuri nikmat yang Engkau berikan. Aamiin.

Selasa, 16 Juni 2026

Ku Percaya Selalu Ada Sesuatu di Djogja


Hari Ahad kemarin (14 Juni 2026) saya memberanikan diri membawa Nissan Serena C24 untuk jalan-jalan bersama keluarga ke Jogja. Berangkat dari Kudus sekitar pukul 14.30 bersama istri dan lima anak saya: Yahya, Maya, Balya, Roya, dan Biya.

Awalnya perjalanan lancar seperti biasa. Saya sengaja lewat Semarang dan masuk tol. Anak-anak terlihat senang karena memang kalau liburan pasti selalu saya ajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 16.30 kami sampai di rest area Ungaran. Ketika mau parkir, tiba-tiba putaran mesin terasa turun. Rasanya seperti mau mati. Saya coba hidupkan lagi dan mesin normal. Tetapi hati saya langsung tidak enak.

"Jangan sampai rewel di tengah perjalanan," batin saya.

Maklum, mobil ini juga sudah tidak muda lagi. Kalau hanya saya sendiri mungkin tidak terlalu khawatir. Tapi kali ini saya membawa istri dan lima anak sekaligus.

Setelah shalat Ashar dan istirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan menuju Bantul lewat Bawen dan Magelang. Karena masih kepikiran kondisi mesin, saya coba mematikan AC.

Jujur saja, selama perjalanan itu pikiran saya tidak tenang. Setiap mendengar suara mesin agak berbeda sedikit, langsung was-was. Setiap berhenti di lampu merah juga saya perhatikan jarum RPM terus.

Anak-anak tentu tidak tahu apa yang saya pikirkan. Mereka tetap asyik ngobrol dan bercanda.

Sedangkan saya di depan sibuk berdialog dengan mesin.

"Sing penting tekan Jogja dhisik."

Alhamdulillah sekitar pukul 21.00 kami sampai di Bantul.

Malam itu saya menginap di rumah teman saya, Ulin Nuha. Beliau ini dulu pernah mondok di tempat pak lek saya, KH. Ahmad Asnawi. Kalau tidak salah beliau mulai mondok sekitar akhir tahun 1994. Saat itu saya masih kelas 4 SD. Sudah cukup lama kami saling kenal. Orangnya baik dan sampai sekarang masih sering silaturrahim ke Kudus.

Karena sudah lama tidak bertemu, malam itu kami banyak ngobrol. Dari cerita pesantren, teman-teman lama, sampai kabar beberapa orang yang kami kenal bersama. Kalau sudah ngobrol seperti itu, kadang satu jam terasa sebentar.

Pagi harinya sekitar pukul 07.00 kami berangkat ke Parangtritis.

Kalau orang tua diajak ke pantai mungkin biasa saja. Tetapi kalau yang diajak lima anak, ceritanya beda.

Begitu sampai, mereka langsung berhamburan.

Yahya sudah lari duluan.

Maya sibuk bermain pasir.

Balya mencari-cari kerang.

Roya buat istana pasir

Sedangkan Biya yang masih 3 tahun hanya berani main pasir di dekat saya.

Saya dan istri hanya duduk memperhatikan mereka.

Dalam hati saya berkata, ternyata kebahagiaan anak-anak itu sederhana. Tidak harus ke tempat yang mahal. Bisa bermain pasir dan berlari mengejar ombak saja mereka sudah senang.

Sekitar pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Annet Villa di Sleman. Di sana kami menginap sehari semalam.

Hari Selasa kami bersiap pulang. Sebelum kembali ke Kudus, saya berencana mampir ke rumah saudara di Suruh, Kabupaten Semarang.

Rencana awal saya sebenarnya lewat Magelang, Tegalrejo, Kopeng, Salatiga lalu Suruh. Menurut saya jalannya lebih nyaman untuk mobil yang kondisinya sedang kurang prima.

Tetapi entah kenapa Google Maps malah mengarahkan lewat Ketep Pass.

Awalnya saya tidak terlalu curiga.

Begitu masuk daerah pegunungan, saya mulai sadar.

"Lho kok lewat kene?"

Jalan mulai menanjak.

Lalu menanjak lagi.

Kemudian turun.

Lalu menanjak lagi.

Saya langsung teringat kejadian di Ungaran dua hari sebelumnya.

AC pun saya matikan.

Jujur saja, saat itu jantung saya mulai dag dig dug.

Batinku, iki mobil kok pas plesiran malah ngajak ujian mental.

Setiap ketemu tanjakan saya dengarkan suara mesin. Setiap melihat jarum temperatur saya perhatikan baik-baik.

Anak-anak di belakang tentu tetap santai. Ada yang tidur, ada yang ngobrol, ada yang melihat pemandangan gunung.

Sedangkan saya sibuk membaca situasi.

Kadang saya sampai berdoa sendiri.

"Ya Allah, kuatno tekan nduwur."

Alhamdulillah sedikit demi sedikit tanjakan bisa dilewati. Sampai akhirnya masuk daerah Kopeng dan jalan mulai terasa lebih ringan. Barulah hati saya agak tenang.

Sekitar pukul 15.00 kami sampai di Suruh setelah berangkat dari Sleman pukul 12.00. Ketika mematikan mesin di halaman rumah saudara, rasanya lega sekali.

Saya pun jadi berpikir. Mobil ini usianya sudah tidak muda. Saya sendiri juga makin bertambah umur. Anak-anak yang dulu hanya ikut digendong sekarang sudah bisa menikmati perjalanan dan punya cerita sendiri-sendiri.

Mungkin beberapa tahun lagi mereka tidak akan ingat berapa kilometer perjalanan ini. Mereka juga mungkin tidak akan ingat bahwa ayahnya sepanjang jalan deg-degan memikirkan kondisi mobil.

Tetapi mudah-mudahan mereka ingat bahwa pernah ada satu perjalanan sederhana bersama ayah dan ibunya. Ada pantai, ada gunung, ada villa, ada jalan yang berkelok-kelok, dan ada kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang persis sama.

Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah menjaga perjalanan kami. Engkau selamatkan kami meskipun kendaraan yang kami bawa tidak sempurna dan pengemudinya pun penuh kekurangan. Jika perjalanan ini membawa kebahagiaan bagi anak-anak saya, maka jadikanlah itu sebagai salah satu nikmat yang membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu. Aamiin.

Jumat, 27 Juni 2025

Putra Sunan Kudus di Karimun Jawa


Mikialqudsy.blogspot.com - Tanggal 23 sd 25 Juni 2025 kemarin saya liburan ke Karimun Jawa. Berangkat senin pagi pukul 07.00 dan harus tiba di pelabuhan pantai Kartini jam 08.00 karena kapal berangkat pukul 09.00. Dengan naik kapal Express perjalanan hanya ditempuh sekitar 2,5 jam yang seharusnya bisa dua kali lipat jika naik kapal Ferry biasa. Perjalanan pertama naik kapal Express seperti terombang ambing karena kecepatan kapal yang tak biasa itu. Perut pun jadi mual dan kepala menjadi kenyut-kenyut apalagi masih mbagani lima bocil yang juga mabuk laut. Tiket kapal Express 200 rb sekali jalan. Harga yang cocok dengan pelayanan (kecepatan) walaupun harus mual-mual karena belum terbiasa. 

Liburan ke Karimun ini saya menggunakan jasa travel www.karimunjawafun.com karena pemilik travel Pak Indra Ardiyanto adalah wali santri di Ponpes Qudsiyyah Putri. Soal harga jangan ditanya lagi, spesial tentunya. Waktu itu pak Indra sowan ke rumah saya memperkenalkan diri kalau dari Karimun. Monggo pak kalau liburan ke Karimun, saya lihat instagram njenengan sering jalan-jalan kalau liburan, kata beliau. Wah siap pak, jawab saya tegas. Akhirnya kesampaian juga ke Karimun.

Karimun ini memang sangat exotic, ada banyak wisata pantai dengan pasir putih dan pantai yang relatif masih bersih. Apalagi snorkeling yang merupakan wisata andalan kalau ke Karimun. Pengunjung bisa menikamati keindahan bawah laut dengan dipandu guide yang sudah berpengalaman. Nanti akan saya ulas wisata apa saja yang saya kunjungi. Namun yang membuat saya semangat ke Karimun adalah adanya makam Syekh Amir Hasan di pulau tersebut.

Di hari terakhir wisata, saya sempatkan untuk ziarah ke makam Amir Hasan yang menurut cerita beliau adalah putra dari Sunan Muria. Memang saya pernah mendengar cerita, bahwa dari puncak Muria terlihat pulau di kejauhan yang masih samar samar (kremun-kremun). Akhirnya Amir Hasan diperintahkan Sunan Muria untuk berdakwah kesana. Dari kata kremun kremun inilah yang akhirnya menjadi nama pulau Karimun. 

Lagi-lagi pak Indra membantu saya dengan dipinjami 3 motor agar bisa ke makam Amir Hasan yang terkenal dengan Sunan Nyamplungan itu. Dengan motor perjalan hanya sekitar 15 menit dengan rute yang terjal naik ke perbukitan sampai atas lokasi makam. Di makam itu sudah ada juru kunci yang humble menerima kedatangan kami. Mau langsung ziarah apa jagong-jagong dulu, tanya juru kunci. Jagong riyen mawon pak, jawab saya. Dari keterangan juru kunci itu, saya mendapat info baru bahwa Sunan Nyamplungan bukanlah putra Sunan Muria tapi putra Sunan Kudus. Berdasar cerita beliau melalui serat yang ada di Belanda menjelaskan bahwa Amir Hasan adalah putra sunan Kudus dengan Dewi Ruhil putri Sunan Bonang. Setelah melahirkan Amir Hasan beberapa tahun kemudian Dewi Ruhil wafat. Lalu sunan Kudus menikah lagi dan memiliki banyak anak. Mungkin karena repot hidup dengan adik-adik beda ibu, akhirnya Amir Hasan dirawat oleh bibinya (adik sunan Kudus) yang merupakan istri sunan Muria. Mungkin karena sejak kecil diasuh sunan Muria dan akhirnya diambil menantu oleh sunan Muria, maka yang terkenal beliau adalah putra sunan Muria. Ini cerita dari juru kunci makam Syekh Amir Hasan. Untuk kebenarannya wallahu a'lam bis showab.

Setelah itu saya pun segera berziarah dengan melangitkan kalimah-kalimah thoyyibah dan melafalkan doa - doa dengan bertawassul dengan Syekh Amir Hasan. Sebelum pulang juru kunci mengenalkan ular Edor yang katanya ular buta karena mendapatkan kutukan dari Amir Hasan yang selalu mengganggu mematuk kaki beliau berulang kali ketika pertama berdakwah di pulau Karimun itu.

                                             gambar silsilah sunan Nyamplungan


Sabtu, 11 September 2021

Wisata Jeep Adventure Merapi

Kali ini kami akan membagikan pengalaman kami berlibur di Kali Urang. Desember 2020 kami berpetualang bersama babi kecil kami (Royya) yang baru usia satu lapan. Kami berangkat melalui tol Semarang-Solo dan keluar melalui pintu tol Boyolali. Selesai exit tol kami menuju ke jalan Klaten Jogja karena kami ingin silaturrahim dulu ke rumah teman di Bantul Jogja. Sebelum sampai ke Bantul, kami melewati Candi Prambanan, akhirnya kami memutuskan untuk ke Prambanan terlebih dahulu, sekalian melihat bangunan candi yang sering diceritakan di sejarah Indonesia. Memang baru kali ini, saya dan istri baru bisa melihat Candi Prambanan. Ya maklum lah...memang kita ini bukan dari keluarga yang sering liburan. 

Setelah dari Prambanan, kami segera ke Bantul, dan setelah ngobrol-ngobrol sejenak dengan teman, akhirnya kami pun pamitan. Dari Bantul kami segera ke Kaliurang menuju penginapan D' Kaliurang Resort and Convention. Dengan berbekal GPS, alhamdulillah akhirnya kami sampai juga. Setelah sampai, kami segera check in karena waktu sudah sore. Setelah mandi kami menyempatkan untuk jalan-jalan sore di sekitar penginapan. Malamnya kami segera istirahat agar paginya bisa menikmati tempat wisata di sekitar. 

Keesokan harinya kami segera keluar untuk mencari sarapan. Tak lupa ketika malam kami sudah menyewa Jeep untuk berpetualang di lava tour Merapi. Setelah sarapan, kami segera melanjutkan perjalanan, kali ini kami mengunjungi The Word LandMark, semacam Dunia mini yang menampilkan miniatur icon-icon Negara di dunia. Ada piramida Mesir, Bigbang London, Menara Pisa, Menara Eifel, dan lain sebagainya.

Setelah siang kami segera kembali ke penginapan karena sudah janjian dengan Jeep Lava Tour. Dengan Jeep Lava Tour kami diajak berkeliling ke desa-desa yang dulu pernah terkena bencana meletusnya gunung Merapi tahun 2010. Keseruannya silahkan tonton video berikut.







Wisata Kopeng dan Ketep

Kopeng merupakan nama sebuah desa di jalur penghubung Salatiga dan Magelang. Mungkin sebagian dari kita masih asing dengan wilayah ini. Namun, siapa sangka kalau Kopeng memiliki beberapa tempat wisata yang beragam untuk pilihan liburan kita. Kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi Taman Wisata Kopeng. Di sini kami sekalian check in di penginapannya. Harganya cukup murah karena wismanya masuk aplikasi OYO. Di Taman Wisata ini banyak sekali wahana permainan yang cocok sekali untuk anak-anak, sayangnya kami datang di waktu yang kurang tepat yakni pada masa PPKM. 

Setelah dari Taman wisata Kopeng, kami beranjak menuju pendakian Cunthel. Disini banyak sekali tempat wisata yang menawarkan pesona view pegunungan. Dari Merbabu view ini kita bisa menikmati indahnya sunsite dan indahnya berbagai gunung, di antara gunung yang kelihatan dari sini adalah Gunung Sindoro Sumbing walaupun hanya kelihatan kecil karena jarak yang sangat jauh, Gunung Andong, dan Gunung Telomoyo. Keindahan alam yang sangat menakjubkan itu cukup untuk memanjakan mata dan mengingat akan kebesaran Allah Subhanahu Wata'ala.

Setelah dari Merbabu View, kami kembali ke penginapan untuk istirahat malam. Paginya kami menyempatkan diri untuk melihat pemandangan Gunung Merbabu dari sini. Merbabu memang sangat besar dan menjadi destinasi bagi para pendaki gunung. Setelah dari Taman Wisata Kopeng, kami beranjak menuju Ketep untuk sarapan degan harapan bisa menyaksikan pesona Gunung Merapi. Namun sayang ketika sudah sampai Ketep, kabut tebal tampak menyelimuti Gunung berapi tersebut. Pingin tau video keseruan liburan kami??? Silahkan tonton video berikut ini.








Minggu, 11 Juli 2021

Liburan Ke Temanggung di masa PPKM

Dulu dulu... Kita kalau jalan-jalan ya berangkat pagi dan pulang malam. Lama-lama, kasihan juga sama pak Isbah Kholili , nyetir sendiri, turun masih momong, langsung putar balik pulang ya capek nya berlipat ganda. Pertama pergi jauh, ke Dieng, nginep di rumah teman. Terus ke Bromo juga entah berapa rumah teman yang jadi tempat singgah kami. Tapi ya sama aja, ketika di rumah temen, pasti malah jagongan, gak full istirahat. 

Akhirnya dari sekian pekan lamanya liburan, kita selalu ambil 2 hari untuk nginep di luar. Short escape sih sebenernya, alias melarikan diri. Soalnya selibur apapun, kalau suami masih di area Kudus, pasti bakal belok ke madrasah lagi, segitu cintanya suamiku dengan pekerjaannya. Nah tips staycation selanjutnya, rajin scrolling aplikasi travel untuk bandingin harga. Nonton youtub tentang tempat wisata yang dituju, biasanya banyak review tentang penginapan. Cari lewat google maps, penginapan sekitar tempat yang dituju, biasanya ada yang nyempil gak masuk aplikasi travel, seperti yang kami pilih saat ini. Pilih kamarnya, sesuaikan dengan budget aja sih. Berhubung kami berprinsip staycation hemat, jadi pilih kamar termurah untuk dua orang, tinggal nambah ekstra bed aja.
 

Rabu, 17 Juni 2020

Mengupgrade Cinta

Hidup berumah tangga itu tidak selamanya bahagia. Kadang ada sedih, susah, payah, dan tidak sumringah. Kadang tumbuh rasa sayang dan cinta pada istri, tapi kadang cinta itu tiba-tiba terasa hilang dan hampa. Kalau boleh saya ibaratkan, hidup berumah tangga itu bagai menelusuri jalan gunung yang berkelok-kelok. Kadang naik, kadang turun, belok kanan, dan belok kiri. Apalagi kalau sudah punya momongan kecil-kecil, hidup kalian bakal lebih penat dan melelahkan. Tiap hari melihat rumah berantakan seperti kapal pecah. Mainan berserakan, sisa makanan di mana-mana. Apalagi kalau ibu negara juga lagi sewot, kelar deh hidup kalian. Saya kasih tips ya brooo biar kehidupan dan rasa cintamu itu selalu tumbuh bersemi bagai bunga matahari yang bermekaran di pagi hari. 

Pertama, jangan memosting kisah sedihmu di media sosial. Lagi gak punya uang, masakan istri gak enak (seperti istri saya), anak-anak lagi bandel, usahakan disimpan sendiri perasaan itu. Sekali lagi, jangan diupload di media sosial. Teman-temanmu tidak akan simpati dengan kisah sedihmu tapi justru akan menertawakanmu walaupun tidak langsung di depanmu. Kalian pernah tidak, lagi butuh uang terus kalian ceritakan di media sosial, lalu tiba-tiba temanmu datang bawa uang satu koper. Gak pernah kan? 

 Tips kedua, selalu ingat awal-awal kalian saling berkenalan, awal kalian menjalin hubungan dan sampai ke pelaminan. Pengantin baru memang enak dipandang, tapi setelah punya anak biasanya perasaan cinta mulai pudar. Apalagi kalau aura istri mulai berubah pasca melahirkan. Maka dibutuhkan mindset untuk kembali pada ikrar qobiltu yang telah diucapkan. Memang berumah tangga itu butuh kesabaran. Dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. 

 Tips terakhir dan yang paling penting adalah mengupgrade cinta. Cinta ini bagaikan hp yang cepat usang karena perkembangan zaman. Maka butuh diupgrade agar tak lekang oleh waktu. Mengupgrade cinta bisa dilakukan dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya mengajak anak dan istri berlibur, jalan-jalan ke swalayan, lihat pemandangan sawah, atau pergi ke rumah orang tua (ini kesukaan istri saya). Memasak bersama juga bisa menumbuhkan gairah dalam mengarungi hidup berumah tangga. Walaupun masakan terasa ambyar tapi kalau buatan sendiri pasti sayang kalau dibuang. Inilah beberapa tips dari saya semoga bermanfaat. 





 
Copyright © 2022 ISBAH KHOLILI. Designed by MikiAlQudsy